Sultan Sepuh keraton Kasepuhan Cirebon Pangeran Raden Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., S.H.,M.H ( Pangeran Kuda Putih )
“Karya Seni Bertajuk Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu Jadi Gerakan Anti-Bullying yang sangat Menggetarkan Hati : Bukan Sekadar Film, Tapi Perubahan dalam Peradaban”.
SeputarindoNews.id – Cirebon — Sebuah gebrakan luar biasa mengguncang jagat seni dan sosial di tanah air! Sultan Sepuh Cirebon Pangeran Kuda Putih, sosok yang dikenal dengan kearifan dan kelembutan hatinya, secara resmi mengumumkan lahirnya sebuah karya besar yang tak sekadar hiburan, melainkan sebuah gerakan moral bangsa! Dengan pesan yang sederhana namun mematikan segala bentuk kebencian: AKU BUKAN MUSUHMU, TAPI AKU SAHABATMU, beliau mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berhenti menindas dan mulai saling mengasihi.

KARYA YANG LAHIR DARI KETULUSAN HATI
Di tengah dunia yang semakin panas dengan perselisihan, perpecahan, dan budaya saling menjatuhkan, Sultan Sepuh Cirebon hadir membawa angin segar yang menyejukkan jiwa. Melalui akun media sosialnya @SultanSepuhOfficial, beliau menyampaikan pesan yang langsung menyentuh jutaan hati Bangsa.
STOP BULLYING “AKU BUKAN MUSUHMU, TAPI AKU SAHABATMU”.

Rd.Hadi haryono ,C.CPL Ketua Panglima Laskar Adat Kuda Putih Arya Kemuning keraton Kasepuhan Cirebon Perwakilan Kokab Sukabumi
Kalimat ini bukan sekadar slogan, bukan sekadar judul film. Ia adalah pernyataan perang terhadap kebencian, sekaligus deklarasi persaudaraan sejati. Sultan Sepuh Cirebon ingin membuktikan bahwa kekuatan terbesar bukanlah pedang atau kekuasaan, melainkan kasih sayang yang tulus dan keberanian untuk berkata: Kita berbeda, tapi kita bersaudara.
Rd.Hadi haryono,C.CPL : BUKAN SEKADAR FILM, TAPI PANGGILAN HATI SELURUH BANGSA.
Pesan luhur ini langsung mendapat sambutan hangat dan dukungan luar biasa dari Ketua Panglima Laskar Adat Kuda Putih Arya Kemuning Keraton Kasepuhan Perwakilan Kokab Sukabumi, Rd.Hadi haryono yang menyampaikan apresiasi tertinggi atas gagasan mulia ini.
Karya ini bukan sekadar tontonan mata, melainkan cermin bagi jiwa bangsa.
Ia mengingatkan kita bahwa di balik segala perbedaan suku, agama, dan kedudukan, kita sesungguhnya berasal dari satu sumber dan menuju satu tujuan untuk saling mengasihi, bukan saling menjatuhkan. ( *)
